BERITA
Image Header News

Jumat, 16 Aug 2018

Sektor Makanan di Jateng Didorong Bersertifikat Halal

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mulai mendorong agar pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) terutama sektor makanan segera mengurus label sertifikat halal. Dari banyaknya potensi produk makanan di Jawa Tengah, UMKM yang telah mengurus label halal masih di bawah 500 usaha. Padahal, jumlah UMKM di Jateng mencapai 5,1 juta usaha. Kepala Dinas Koperasi dan UKM Jawa Tengah, Ema Rachmawati menjelaskan, di Jateng UMKM yang mengurus label halal baru 494 usaha. Pemerintah menggiatkan sertifikat label halal melalui kegiatan Jambore Halal 2018 di halaman kantor Pemprov Jateng, Selasa (5/6/2018). Pemerintah ingin industri mengurus label halal dari Majelis Ulama Indonesia. "Tahun 2019 semua produk targetnya sudah 100 persen bersertifikat halal," kata Ema, seusai acara. Ema mengatakan, label halal penting karena mandataris dari undang-undang. Semua produk yang masuk, beredar atau yang diperdagangkan harus bersertifikat halal. Sejauh ini, sambung Ema, para pelaku usaha kesulitan mendapat label halal. Salah satunya karena biaya yang cukup tinggi yang mencapai Rp 2,5 juta untuk satu produk. "Tidak semua UMKM punya kemampuan, 1 produk biayanya Rp. 2,5 juta. Jadi pemerintah harus hadir, karena itu dari pemerintah, dan kami harus melakukan Fasilitasi," tambahnya. Salah satu produk pangan yang mendapat label halal yaitu Minyak Kedelai buatan BUMN PT Kimia Farma. Minyak kedelai buatan pabrik asal Semarang itu kini dipasarkan ke sejumlah hotel, kafe dan restoran. Sales Manager PT Kimia Farma Ardy Wahyu Sanditya mengatakan, minyak kedelai dipilih menjadi pendapat baru terbaik di Jambore halal 2018. Minyak kedelai yang dulu dipakai industri kini disebar untuk ke industri rumah tangga. "Minyak kedelai kami dinobatkan sebagai pendatang baru terbaik. Pemasaran kami untuk hotel dan restoran bisa Rp 500 juta perbulan. Minyak kedelai ini ramah lingkungan," ujar Ardy di sela pameran produk halal. Untuk satu kilogram minyak kedelai dibanderol dengan harga Rp 17.000 atau lebih tinggi ketimbang minyak goreng (sawit). "Bahan baku minyak kami sebagian dari petani lokal. Pembuatannya murni di pabrik di Simongan," paparnya.